Pernah dengar kisah malin kundang? Aku rasa semua mengenalnya. Jika
malin kundang tidak mengakui ibunya berbeda dengan kisahku. Ibu
kandungku tak pernah menganggapku ada. Harta sepertinya menyilaukan
matanya. Hanya selang 2 bulan sepeninggalan Ayahku, ibu telah membawa
pulang Kapten Bhirawa yang terkenal kaya raya sebagai
penggantinya. Aku dititipkan ke nenek yang sudah tua renta setiap kali
si Kapten di rumah. Ibu mengaku tidak memiliki anak dari perkawinannya
dengan almarhum Ayah. Umurku yang masih 7 tahun pada saat itu tak mampu
berbuat banyak. Aku hanya menerimanya walaupun setiap malam nenek
disibukkan untuk menghentikan tangisan kepedihanku. Sempai aku memiliki
keluarga sendiripun Ibuku tak bergeming. Di idul fitri kemarin aku
beserta istri dan anak perempuanku bersilaturahmi ke rumah Ibu namun apa
yang kudapat? Belum sampai di depan rumahnya, ibu mengusirku dengan
isyarat tangan. Alhasil anakku tak pernah mengenal neneknya.
Pendidikan tinggi tak pernah ku kenyam. Itulah yang menyebabkan aku
hanya mampu bekerja sebagai penjual mainan yang setiap malam berkeliling
di alun-alun kota Surabaya. Tak banyak recehan yang
aku peroleh. Ditambah lagi anak-anak sekarang lebih banyak memilih
permainan di alat komunikasinya. Alasannya tidak mau ketinggalan jaman,
padahal sebenernya mereka termakan oleh jaman. Tak lebih dari sepuluh
orang yang melirik barang daganganku di setiap malam. Kehidupan serba
kekurangan itulah kehidupan keluargaku.
Aku tak pernah mengira. Kenyataan pahit kembali menimpa kehidpanku.
Wanita yang aku nikahi selama 6 tahun pergi tanpa pamit. Tak ada sepatah
kata pun Ia ucapkan. Hanya ku temukan sebuah surat cinta
yang di dalamnya tertulis nama lelaki lain. Saat anakku menanyakan
keberadaan ibunya, bibirku tak mampu bergerak untuk menjawabnya. Selang
setahun anakku mulai terbisa tak mendengar senandung cinta dari ibu yang
mengiringi tidurnya. Setiap bangun pagi aku selalu menjumpai anakku
yang sudah berseragam rapi khas anak TK. Mungkin karena melihat ayahnya
yang selalu pulang larut malam untuk bekerja, dia belajar untuk
mempersiapkan keperluannya sendiri di usianya yang sangat belia. Di pagi
hari Ia membangunkannku hanya ketika perutnya mulai keroncongan. Ku
beri uang lima ribu perak dan Ia langsung menuju warung dekat rumah.
Untung aku memiliki tetangga yang sangat peduli, tanpa diminta pun
mereka menjaga anakku sewaktu ku mengumpulkan recehan di alun-alun.
Inilah hidupku. Bagiku hidup adalah sebuah keikhlasan. Mugkin aku tak
mempunyai banyak uang, hanya bidadari kecilkulah hartaku. Senyum
manisnya membuatku tetap bertahan menjalani kehidupan fana ini. Aku
yakin Tuhan mempunyai rencana yang indah di dibaliknya. Yang aku mampu
hanya menjalani dengan sepenuh hati.
Ku kenal dia di Masjid itu. Pertama kali ku tatap matanya, aku yakin
dialah orang yang ku nanti. Aku yakin dialah bagian dari tulang rusukku.
Sharoh, nama gadis manis itu. Pakaian serba rapi dan kerudung selalu ia
kenakan. Ayah Sharoh adalah orang terpandang di Kampung. Dia adalah
Haji Ridwan, pemilik masjid An-Nur yang berada di sebelah pasar. Seluruh
orang penjuru kampung pasti sangat mengenal keluarga Haji Ridwan.
Beliau terkenal karena kedermawanannya.
Aku yatim piatu yang hidup di jalanan. Makan hanya mengandalkan belas
kasih jamaah masjid An-Nur. Suatu hari, panas begitu terik sangat
menyengat, sejak pagi tak ada satupun orang yang memberikan belas
kasihnya padaku.
Rasa
lapar dan haus membuatku gelap mata. ku lihat sepasang sandal bermerek
di pelataran masjid. Dengan perasaan yang was-was perlahan ku hampir
sandal tersebut dan kuraih. Sedikit berlari ku tinggalkan pelataran
masjid. Celakanya ketika beberapa langkah, seorang bapak-bapak setengah
baya meneriaki aku maling. Alhasil teriakan bapak tersebut mengundang
perhatian banyak orang. Semakin cepat ku berlari. Langkahku terhenti
ketika seorang bapak-bapak berpakaian putih dan mengenakan peci berserta
seorang gadis berkerudung menghadangku. Belakangan saya tahu bahwa
mereka adalah Haji Ridwan pemilik masjid dan Sharoh putrinya. Kutatap
kelembutan yang terpancar dari wajah Sharoh. Saat ku lihat parasnya ku
rasa waktu sedetik berhenti. Keanggunan parasnya membuatku tak hentinya
memandangnya. Lamunanku terhenti setelah beberapa tangan mencengkramku.
Ketakutan menyelimutiku. Beberapa temanku dihakimi warga hingga
meninggal karena tindakan pencurian. Beberapa waktu lalu bahkan teman
dekatku diancam hukuman 5 tahun penjara atas tuduhan pencurian sandal
bolong. Itulah yang saat ini yang menggelayut di pikiranku. Apakah nanti
aku akan berakhir ditangan warga atau akan mendekam di balik dinginnya
jeruji besi. Sebuah bogem mentah mengenai daguku. Segera saja darah
segar mengalir dari mulut. Aku berfikir mungkin inilah akhir hidupku.
Tiba-tiba Haji Ridwan angkat bicara. Menenangkan amarah warga. Negosiasi
yang tak mudah dilewati Haji Ridwan dengan warga sekitar. Akhirnya
sesuai kesepakatan aku hanya diminta untuk meminta maaf kepada pemilik
sandal. Segera setelah itu Haji Ridwan membawaku ke rumahnya. Sungguh
aku merasa sangat berterimaksih kepada Haji yang dermawan tersebut,
beliau membantuku terlepas dari amukan warga. Di rumah Haji Ridwan aku
menceritakan semua latar belakangku dan alasan kenapa sampai melakukan
tindakan pencurian. Selesai bercerita mereka tak berkomentar apapun,
hanya saja Bu Haji mengambilkan aku sepiring nasi lengkap dengan ikan
dan teh manis. Dengan sedikit malu aku memakannya. Aku sangat terharu
atas kebaikan keluarga Haji Ridwan.
Sekarang tepat 3 bulan setelah peristiwa yang hampir merenggut nyawaku
itu tepat, 3 bulan juga aku menjadi marbot di Masjid An-Nur. Haji Ridwan
memberikan amanat kepadaku untuk mengurus masjid ini. Setiap hari di
Masjid inilah aku bisa mencuri pandang ke Sharoh. Aku hanya bisa
mengaguminya dari jauh. Sharoh bagaikan hujan yang memberikan kehidupan
pada tanaman. Setiap aku memandangnya rasanya waktu terhenti. Aku hanya
bisa mengaguminya. Aku sadar diri. Dari ceramah yang sering ku dengarkan
dimasjid ku tahu bahwa jodoh adalah salah satu ketentuan yang tidak
bisa dirubah. Aku percaya jika memang Sharoh adalah jodohku maka akan
selalu ada cara untuk dekat dengannya.
Tepuk tangan penonton Wayang Orang BlogCamp Budhoyo gemuruh.
Kiprah Cakil yang lincah dan tehnik menghindari serangan yang dilakukan oleh Arjuno juga ciamik.
Klimaks perang tanding antara satria bagus dengan raksasa bergigi mancung tampaknya akan segera tiba.
Cakil yang diperankan oleh Mudhoiso tampak menarik keris dari rangkanya.
Sementara Rikmo Sadhepo yang ayu gandhes pemeran Arjuno melirik sambil
senyum kemayu. Tusukan
keris yang mengarah dada dapat dielakkan oleh Arjuno sambil menyabetkan
selendang kearah kepala Cakil. Raksasa bertingkah pencilakan itu
muntap. Dengan gerakan bringas diarahkannya keris luk 9 itu ke arah
perut Arjuno. Kini satria panengah Pendowo tak buang-buang waktu.
Ditangkapnya pergelangan tangan Cakil lalu diputarnya dengan ujung keris
mengarah ke tubuh sang raksasa. Cakil berusaha menghindar.
Sreeeeet..ujung keris merobek leher Cakil.
Cakil menjerit keras, lalu ambruk. Arjuno meninggalkan palagan sambil
tersenyum. Niyaga mengalunkan gending sampak. Layarpun diturunkan. Tepuk
tangan penontonpun cethar membahana.
Tiba-tiba terdengar suara jeritan bersahut-sahutan dari balik layar yang tertutup.
Inspektur Suzana yang sedang menonton pagelaran wayang orang itu segera
lari menuju panggung. Disingkapkannya layar. Tubuh Mudhoiso tergeletak
dengan wajah membiru, matanya melotot seolah menahan sakit. Darah
mengalir dari lehernya. Dirabanya nadi laki-laki berkostum Cakil itu.
Tak ada denyutan lagi. Mudhoiso telah tewas.
“Dia pembunuhnya!”. Teriak sesosok yang muncul tiba-tiba
dari arah bangku penonton dan mengarahkan jari telunjuknya ke Rikmo
Sandhepo.
“Tidak, aku tidak melakukannya”. jawab Rikmo Sandhepo dengan wajah ketakutan.
“Jangan menuduh sembaranagan Detektif Sableng, kita harus melakukan penyelidikan dahulu”. Inspektur Suzana angkat bicara.
Detektif Sableng dijuluki sebagai detektif gila dengan gaya nyentriknya.
Baju batik dan syal warna merah selalu menemai disetiap langkahnya.
Dulunya dia adalah seorang Inspektur yang dipecat karena kegilaannya
terhadap judi. Kecelakaan mobil yang menewaskan Istri dan seorang anak
laki-lakinya yang dikemudikan oleh Detektif Sableng sendiri menjadikan
dia semakin menggilai judi. Disamping itu dia memiliki hobi memancing.
“Hanum, cepat kumpulkan semua kru dan juga pemain di
panggung segera setelah semua penonton meninggalkan gedung ini”. Kata
Inspektur Suzana kepada sutradara Wayang Orang BlogCamp Budhoyo itu.
Nampak satu persatu penonton mulai meninggalkan gedung. kecemasan tak
lagi terlihat di wajah para penonton. Hanum mampu menutupi wajah
ketakutannya dihadapan penonton, menutup pertunjukan dan menjelaskan
bahwa jeritan di akhir cerita adalah bagian dari skenario. Segara
setelah itu, 20 Pemain dan 10 kru berhasil dikumpulkan di panggung
berdarah itu. Disamping itu anak buah Inspektur yang datang bagai kilat
ke TKP setelah mendapatkan panggilan langsung memasang garis polisi di
sekitar mayat Mudhoiso.
“Atur giliran mereka untuk introgasi di Ruang Ganti Pemain”.
Kata Inspektur Suzana sedikit berbisik kepada Bokir, anak buah
kepercayaannya.
Bokir tak menjawab, hanya menganggukan kepalanya. Segera Bokir mengatur
giliran Intrograsi para pemain dan kru tersebut. 2 orang silih berganti
keluar masuk ke ruang ganti pemain yang mendadak berubah menjadi ruang
introgasi tersebut.
“Maaf detektif, anda juga harus ke ruang ganti seperti yang lainnya”.
“Aku ini detektif yang sering memecahkan kasus pembunuhan seperti ini,
beraninya kau menuduh aku sebagai tersangka”. Teriak detektif Sableng
pada Bokir dengan marahnya.
“Maaf Detektif, itu adalah perintah dari atasan kami. Dan kewajiban saya untuk melaksanakannya”.
“Dasar kau…!!”. teriak detektif Sableng dengan gusarnya tak dapat
mengendalikan emosinya. Diraihnya kerah baju Bokir dengan tangan
kirinya. Tangan kanan mengepal, mengayun ke arah wajah Bokir.
“Hentikan Detektif, jangan berbuat onar di sini. Aku yang memerintahkan dia”. Inspektur Suzana tiba-tiba muncul.
“Jika kamu memang bukan pelakunya tolong ikuti prosedur kami, cepat ke
ruang ganti sekarang jangan menghambat kerja kami”. lanjut Inspektur
Suzana.
“Dasar Inspektur kurang ajar”. Kata Detektif Sableng dalam hati kemudian dengan langkah gontainya berjalan menuju ruang ganti.
Akhirnya seluruh pemain dan kru termasuk Sutradara dan Detektif Sableng
selesai diperiksa.Setelah diperiksa ternyata keris yang digunakan oleh
Rikmo Sandhepo bukan keris asli. Semua tak di ijinkan meninggalkan
gedung pertunjukan dan tetap berkumpul di panggung. Mayat Mudhoiso sudah
tak ada di panggung. Hanya bercak darah yang letaknya agak berajuhan
dari tempat jautuhnya korban masih tertinggal di kelilingi garis polisi.
Nampak hilir mudik anak buah Inspektur Suzana di sekitar panggung
melakukan pemerikasaan TKP.
“Kalian semua boleh beristirahat tapi tidak diperkenankan
untuk meninggalkan gedung ini”. Kata Inspektur Suzana yang muncul dengan
Bokir membawa beberapa berkas ditangannya.
Semua orang yang sebelumnya berkumpul di Panggung satu persatu
meninggalkan panggung setelah mendapat instruksi dari Inspektur. Salah
seorang pemain takpak masih gemetar ketakutan. Bahkan keponakan
perempuan Sang Sutradara yang juga termasuk pemeran dalam Wayang Orang BlogCamp Budhoyo masih menangis sesegukan karena ketakutan dan cemas.
“Bagaimana perkembangan penyelidikannya”. Kata Detektif Sableng.
“Saya harapkan kamu tidak ikut campur dalam kasus ini, biarlah kami yang menyelesaikannya sendiri”. Kata inspektur Suzana.
“Dasar Wanita angkuh, sok bisa menangani semuanya. Aku jamin kalian
pasti akan memelas meminta bantuanku untuk memecahkan kasus ini”. kata
Detektif Sableng dengan nada tinggi sambil berjalan meninggalkan
panggung .
“Apakah semua berkas yang saya minta sudah lengkap?’.
“Ya Inspektur, semua berkas yang Anda minta sudah terbendel menjadi satu ditangan Anda”. Kata Bokir
“Tolong jelaskan secara singkatnya!”.
“Setelah kami selidiki, ternyata ke tiga orang yang Inspektur curigai
sebagai tersangka itu memiliki latar belakang keterkaitan secara
langsung ataupun tidak langsung terhadap korban”.
“Sang Sutradara dulunya sempat mau menikahkan korban dengan anak
perempuannya. namun belakangan diketahui bahwa korban sudah memiliki dua
orang istri sehingga sutradara menjadi gusar dan membatalkan pernikahan
tersebut. Di hari yang seharusnya menjadi hari pernikahan anak
sutradara dengan Mudhoiso, anak perempuan Sutradara itu ditemukan tewas
dengan leher terjerat tali menggantung di gudang belakang rumah. Diduga
anak perempuannya tersebut mengalami depresi karena batal menikah”..
Lanjut Bokir.
“Sedangkan Kumbakarna yang juga Anda curigai sebagai tersangka ternyata
waktu SMA adalah teman sekelas korban. Kumbakarna dan Mudhoiso terkenal
sebagai dua orang yang selalu bersaing di klub basket di sekolah.
Tercatat beberapi kali mereka terlibat perkelahian dan juga sempat
menyebabkan Kumbakarna dirawat di Rumah Sakit selama sebulan karena
mengalami gegar otak ringan. Hal itu juga menyebabkan Kumbakarna tinggal
kelas. Dari keterangan pemain Wayang Orang BlogCamp Budhoyo lain
kami memperoleh informasi bahwa mereka berdua juga sempat terlihat
beberapa kali bertengkar memperebutkan peran Cakil dalam pertunjukan
ini, dan akhirnya Mudhoiso lah yang terpilih memerankannya”. Kata Bokir
melanjutkan keterangannya.
“Bagaimana dengan Dia?’. Kata Inspektur Suzana penuh penasaran
menanyakan tentang salah satu orang yang diduga menjadi tersangka dalam
“Dia dan korban adalah teman ditempat perjudian besar yang letaknya di
dekat stasiun kota. Dia ternyata masih memiliki hutang kepada korban
sebesar Rp.50.000.000,- . mereka sempat beberapa kali adu mulut di
tempat perjudian dan menimbulkan keributan besar sehingga sering di usir
keluar dari perjudian. Dari keterangan tentangga dia, diketahui bahwa
Mudhoiso sering datang kerumahnya membawa dua orang bertubuh kekar
dengan jaket kulit warna hitam dan selalu berujung pada keributan di
rumah dia”. Jelas Bokir
“Kerja Bagus, kita sudah menemukan motif yang mungkin menjadi alasan
pembunuhan ini, sekarang yang harus kita cari adalah bagaimana cara
pembunuhannya dan senjata apa yang digunakan pelaku untuk menggorok
leher korban”. Kata Inspektur Suzana sembari membolak-balik berkas yang
sedari tadi dipegangnya tersebut.
“Inspektur.. Inspektur kami menemukan Pisau berlumuran darah yang
disembunyikan di dalam ruang ganti”. Tiba-tiba salah seorang anak buah
Inspektur Suzana menghampiri.
“Cepat tunjukan tempat kamu menemukan ini”. Kata Inspektur Suzana dengan segera melangkahkan kakinya menuju ruang ganti.
“Pasti dia orangnya, tidak salah lagi. Dia meletaktakannya di waktu selesai introgasi”.Kata Inspektur Suzana dalam hati.
Segera kumpulkan semua orang dipanggung sekarang, Aku sudah tau pelakunya. Perintah Inspektur kepada Bokir.
“Ba..baik Inspektur”. Kata Bokir setengah terbata-bata karena terkejut.
Tiba-tiba terdengar teriakan dari salah toilet. Semua orang berlarian
menuju asal muasal teriakan. Tampak sesosok mayat tergantung di dalam
toilet. Mayat tersebut adalah mayat Kumbakarna. Di atas westafel nampak
secarik surat yang ditinggalkan oleh Kumbakarna. Secara tiba-tiba
Detektif Sableng meraih surat tersebut dan langsung membacanya dihadapan
semua orang.
“Saya minta maaf atas kekacauan yang saya buat di panggung
yang harusnya menjadi panggung yang penuh sejarah ini, saya telah
melakukan tindakan keji sehingga menghilangkan nyawa seseorang, yakni
Mudhoiso…”.
“Hentikan itu detektif, Anda tidak berhak membacanya. Itu adalah barang
bukti yang menjadi hak kami selaku pihak berwajib”. kata Inspektur
Suzana yang datang sedikit telat dibandingkan yang lain.
“Tolong semua berkumpul di panggung sekarang, biar ini kami yang mengurusnya”. Lanjut Inspektur Suzana.
Semua bergegas menuju panggung untuk berkumpul sesuai permintaan
Inspektur Suzana. Tidak beberapa lama kemudian Inspektur Suzana datang.
“Baiklah, saya akan menjelaskan mengapa kalian saya kumpulkan semua di sini, saya sudah tau pelaku pembunuhan Mudhoiso”.
“Bukankah pembunuh Mudhoiso sudah jelas adalah Kumbakarna sesuai surat
wasiat yang telah ia tinggalkan”. Cela salah seorang kru yang ikut
berkumpul di panggung.
“Bukan!!’.
“Apa maksud Anda Inspektur?”
“Kumbakarna memang bisa maksuk penjara jika dia masih hidup tapi bukan
karena alasan membunuh Mudhoiso, dia akan ditanggkap karena telah
melakukan percobaan pembunuhan. Pembunuh sebenarnya ada di antara kita.
Dia pasti merasa sangat senang dengan kasus bunuh diri Kumbakarna, namun
dia lupa bahwa kami bukan orang yang mudah diperdaya hanya dengan
trik-trik pembunuhan semacam itu”. Jelas Inspektur Suzana.
“Lalu siapa pembunuh sebenarnya?”. Potong salah seorang kru.
“Dialah pelakunya”. Sambil menunjuk Hanum sang Sutradara.
Semua mata terpanah. Semua tercengang dengan pernyataan Inspektur Suzana.
“Bagaimana mungkin saya melakukan hal itu, saya ini masih punya harga
diri. Tidak mungkin melakukan keji seperti itu”. Kata Hanum sedikit
marah.
“Jangan mengelak lagi, kami sudah punya buktinya. Buktinya adalah ini.
Sambil menunjukan beberapa helai senar pancingyang saya temukan di
tasmu.
Senar pancing ini adalah senar yang memiliki daya tahan yang sangat
kuat, biasa digunakan di laut oleh pemancing profesional seperti kamu.
Sebenarnya Mudhoiso mati kerena kehabisan nafas tercekik oleh senar
pancing ini bukan mati karena tikaman pisau yang dilakukan oleh
Kumbakarna. Lanjutkan ceritanya, Bokir!”.
“Baik Inspektur. Pembunuhan dilakukan sesaat setelah lampu panggung
dimatikan dan Tirai diturunkan. Pembunuhan ini hanya bisa dilakukan oleh
orang-orang yang pada saat itu dekat dengan TKP. Dan orang yang sangat
memungkinkan melakukan itu adalah anda Bapak sutradara yang selama
pertunjukan ini selalu berada di samping panggung mengawasi jalannya
cerita.. “.tambah Bokir
“Mana mungkin saya melakukannya. Tidak hanya saya yang bisa
melakukannya, bukankah Rikmo Sadhepo juga bisa melakukan itu. Dia saat
kejadian itu dekat sekali jaraknya dengan korban, hanya sekitar 5 meter
saja. dan dia meletakan senar pancing itu di dalam tasku agar akulah
yang dituduh sebagai pelakunya.”. Kata Hanum.
“Jangan bicara sembarangan Pak, saya tidak mempunyai alasan untuk
melakukan perbuatan itu”. Teriak Rikmo Sadhepo karena merasa
tersinggung.
“Sudah, jangan mengambing hitamkan orang lain Hanum. Bukankah kamu yang
mengatur properti pemeran. Kamu memilih kalung yang sangat ketat untuk
digunakan oleh Mudhoiso saat pertunjukan. Hal itu kamu lakukan untuk
bisa mengelabui penyelidikan agar kami berpikir bahwa bekas garis merah
yang kami temukan di leher korban adalah karena kalung yang sengat ketat
tersebut. Awalnya kami memang berpikir demikian namun sangat janggal
sekali, karena tali kalung yang digunakan oleh korban besar berbeda
sekali dengan bekas merah yang mengelilingi leher korban. Kami juga
telah memeriksa rumah Anda, disana kami menemukan banyak sekali senar
pancing seperti ini padahal senar pancing ini dibatasi peredarannya.
Hanya orang-orang tertentu yang bisa mendapatkannya. Tentu tak sulit
bagi Anda untuk mendapatkannya mengingat hubungan Anda dengan luar negri
sangat luas. Jika diperiksa pasti ditangan Anda masih ada bekas merah
yang ditinggalkan saat Anda menjerat leher korban”. Kata Inspektur
Suzana.
Sutradara yang bertubuh gempal itupun terduduk di lantai sambil menunduk.
“Andai saja dia tidak melakukan itu pasti aku tidak perlu repot-repot melakukannya “.Kata Hanum.
“Dia adalah rekan bisnisku dalam bidang jual beli obat-obat terlarang,
kami diam-diam sudah menjalin kerjasama sejak empat tahun lalu. Sebagai
syarat agar saya diterima menjadi rekan bisnisnya adalah dengan
merelakan putri saya untuk manikah dengannya. Awalnya kerja sama kami
berjalan dengan lancar. Semua keuntungan kami bagi bersama secara
gamblang. Tapi Setahun yang lalu tiba-tiba dia berubah sikap, seenaknya
sendiri membuang aku dari bisnis obat terlarang itu. Karena hal itulah
aku membatalkan pernikahan putriku dengan dia, bukan karena dia sudah
beristri. Saya sangat dendam kepadanya karena dia telah membuat putri
saya satu-satunya tewas mengenaskan dengan gantung diri”. Ungkap Hanum.
“Paman tega sekali menjual Srikandi, putri paman sendiri hanya demi
bisnis haram tersebut. Tidakkah Paman tau jika Srikandi gatung diri
karena dia mengetahui kenyataan bahwa Ayahnya telah terlibat dengan
bisnis haram dan melibatkan dirinya yang kemudian dijual kepada
Mudhoiso.Srikandi tidak pernah sekalipun menaruh hatinya pada Mudhoiso,
dia mau dijodohkan dengannya karena ingin membahagiakan paman tapi
ternyata paman telah menjualnya, itulah hal yang sering dia ceritakan
kepada saya”. Cela Dedes, keponakan perempuan Hanum sambil meneteskan
air mata.
Hanum hanya tertunduk diam tak bersuara hanya tetesan air mata yang
jatuh ke lantai panggung berdarah itu. Dengan sigap, Bokir memborgol
Hanum dan segera membawanya keluar dari gedung menuju mobil polisi yang
sedari tadi sudah terpakir di depan gedunng.
Sesampainya di Pintu, Hanum sempat menoleh ke Dedes sambil meneteskan air mata.
SELESAI. ….